Anak
merupakan amanah dari Allah bagi para orangtua.adalah kewajiban
orangtua memberikan bekal yang terbaik buat mereka. kenapa di zaman
sekarang ini anak-anak kita susah sekali melepaskan diri dari narkoba
dan seksualitas, itu karena para orangtua tidak membuat fondasi yang kuat pada usia dini
aku teringat sebuah lagu yang waktu kecil-kecil dulu sering dinyanyikan bersama teman-teman, yang liriknya seperti ini :
Belajar diwaktu kecil
Bagai mengukir diatas batu
Belajar sesudah dewasa
Laksana mengukir diatas air
Ilmu dunia akhirat
Wajib dituntut dipelajari
Dari kecilah engkau mendapat
Sudah Dewasa berguna kemana pergi
Belajar diwaktu kecil
Bagai mengukir diatas batu
Belajar sesudah dewasa
Laksana mengukir diatas air
Jangan sedih yatim piatu
Tiada berayah tiada beribu
Tapi sedihlah tak punya ilmu
Jalan mana.. yang mana hendak dituju
Belajar diwaktu kecil
Bagai mengukir diatas batu
Belajar sesudah dewasa
Laksana mengukir diatas air
Betapa pentingnya pendidikan di usia dini, seperti lirik lagu diatas mendidik anak dari kecil
sama seperti kita mengukir diatas batu.Seperti yang disampaikan juga
oleh ibu Hj. Neno Warisman pada pengajian Ba’da Dhuha, ahad 9 Desember
2007 di Mesjid Agung Sunda Kelapa bahwa setiap bayi yang dilahirkan
kedunia diberikan oleh Allah kurang lebih 100 milyar neuron diotak
secara cuma-cuma, hanya saja neuron-neuron itu belum tersambung
sempurna. Alkisah ; Rasulullah SAW pernah menggendong seorang anak
sahabat beliau yang masih bayi, tiba-tiba anak tersebut mengencingi
gamis Rasulullah SAW, lantas ayah dari bayi tersebut karena merasa tak
enak hati segera merenggut bayi itu dari pangkuan Rasulullah SAW,
sehingga bayi tersebut terkejut dan menangis, Rasulullah SAW kemudian
berkata kepada sahabatnya itu :” Kencing anakmu digamisku bisa kucuci, tapi kaget anakmu tak bisa kau ganti!” .Apakah maksud dari perkataan Rasulullah SAW : tapi kaget anakmu tak bisa kau ganti ?
Ribuan abad jarak setelah Rasulullah SAW berkata demikian, seorang neurolog
tertarik untuk meneliti otak bayinya, setelah memasangkan alat-alat
dikepala bayinya lalu ia mulai melakukan percobaan, pertama ia membuat
suara-suara lucu (stimulan suara) untuk menggoda bayi tersebut (bahasa
jawanya : digudhang) , si bayi tertawa geli,kemudian peneliti
melihat pada layar apa yang terjadi pada otak anaknya ? Subhanallah ….
neuron-neuron yang berjumlah banyak tersebut saling bersambungan,
sambungan tersebut yang kemudian dalam ilmu kedokteran dinamakan koneksi Sinaptik ,
begitu pula ketika ia mengusap pipi bayi (stimulan taktil) tersebut
dengan sayang , juga ketika ia menggoda bayi tersebut hanya dengan
mimik wajah (stimulan penglihat) yang dibuat lucu , neuron-neuron yang
ada dikepala bayi saling bersambungan, menjadikan otak bayi tersebut
rimbun dan cerdas. setelah itu, tanpa sengaja kaki bayi tersebut
menendang salah satu kabel sehingga goyanglah gambar, sehingga peneliti
tersebut menjerit sama persisnya seperti sahabat nabi yang bayinya
mengencingi gamis beliau , mendengar jeritan si bayipun turut terkejut
dan apa yang kemudian terjadi? Si peneliti melihat ke layar, ribuan
neuron bahkan jutaan neuron yang ada di otak bayi tersebut bagaikan
tersambar halilintar hangus terbakar. Dan ternyata itulah arti dari
perkataan Rasulullah Saw : tapi kaget anakmu tak bisa kau ganti!.
Anak-anak yang kaget pada waktu bayi atau
anak yang teraniaya, kurang kasih sayang dari orangtuanya dan
lingkungan sekitar pada dini usia, maka akan menjadikan sambungan
neuron-neuron tersebut hangus terbakar, efeknya ; menjadikan anak-anak
tersebut akan kesulitan untuk memilih dan memilah mana yang baik untuk
dirinya dan mana yang tidak, kesulitan dalam memilih teman, kesulitan
untuk belajar, yang menyebabkan anak-anak tersebut mau ikutan gang
motor (misalnya) dan otak anak yang sehat, yang diperlakukan dengan
baik, yang tumbuh dengan kasih sayang sehingga terjadi
koneksi sinaptik yang menyambungkan milyaran neoron-neoron yang ada
diotaknya,maka efeknya ; otak anak-anak tersebut menjadi rimbun dan
cerdas.
Sekarang
ini banyak para ibu yang tak mau direpotkan oleh anak-anaknya, demi
menjauhi kerepotan tadi para ibu tega membiarkan berjam-jam
anak-anaknya yang masih dibawah umur (bahkan dibawah umur 7 tahun)
untuk dirampok pola pikirnya oleh kotak hitam bergambar bernama
televisi, kita sendiri semua tahu program seperti apa yang disajikan
oleh pertelevisian Indonesia, memberikan tayangan-tayangan berdasarkan
sebuah lembaga,yaitu lembaga rating dimana alat ukurnya bernama “People Meter” yang (mungkin) hanya diambil samplenya pada 1 keluarga saja, saya katakan mungkin
karena pernahkah lembaga rating tersebut memberikan angket
kerumah-rumah kita dan menanyakan tayangan seperti apa yang kita suka?!
Tidak pernah! Inilah kebohongan besar yang dilakukan oleh lembaga
rating Indonesia, menurut mereka tayangan seperti inilah yang
peminatnya banyak ditonton oleh pemirsa, contoh ; sinetron tentang
percintaan, kartun-kartun dengan kekerasan, atau tayangan show seperti
WWE Smack Down (masih ingatkan berapa jumlah anak yang meninggal akibat tayangan ini?) ,tayangan-tayangan
yang menjurus ke pornografi, bahkan tragisnya lagi tayangan-tayangan
tersebut ditayangkan pada saat sebelum jam-jam tidur mereka, akibatnya
anak-anak itu dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Apa yang terjadi kalau anak-anak sudah
dirasuki oleh kesukaan untuk melihat gambar pornografi, setelah
diadakan oleh para peneliti ternyata bahaya pornografi lebih jauh
berbahaya daripada pemakaian narkoba, jikalau narkoba yang dirusak
hanya otaknya,tetapi kerusakaan yang ditimbulkan oleh pornografi adalah
kerusakan jasmani dan sekaligus rohani kita.
Banyak faktor yang mendukung pembentukan karakter anak :
- Rumahnya
- Sekolahnya
- Dan Lingkungannya
Awal pembentukan karekter anak dimulai dari
dalam rumahnya, dimulai dari ketika anak masih berusia dini.Maka
kuncinya untuk para orangtua adalah dengan tidak marah-marah, tidak
ancam-ancam, apalagi pukul-pukul sehingga otak anak menjadi Rimbun dan Cerdas, perlakukan anak-anak usia dini dengan penghargaan dengan kata yang benar, kata-kata halus penuh kasih sayang.
Diakhir ceramah ibu Hj. Neno Warisman memberikan kami oleh-oleh para jama’ah pengajian tentang True Story
mengenai seorang ibu yang tidak sekolah, seorang ibu yang sabar dalam
mendidik anaknya, sehingga anaknya menjadi seorang Jendral, yang
sekarang berbintang 4.
(sebut saja) ibu tersebut bernama ibu Sastro
yang mempunyai anak (sebut saja)bernama Joko usia 4th(masih dini usia)
, dimana usia dini 0-7 tahun adalah usia anak-anak mau tahu segalanya,
yang nakalnya luar biasa.
Karena mereka tinggal didesa dan bukan
berasal dari keluarga kaya maka rumahnya berhimpitan dengan kandang
ayam ,suatu hari Joko bermain-main di kandang ayam, tiba-tiba Joko
menangis karena dipahanya ada kotoran ayamnya.Mari kita lihat dialog
seperti apa yang terjadi antara ibu Sastro dan Joko, putranya.
Joko :”eeeeeeng..eeeeng..eeeeng, mbook..mbook…eeng..eeng” (eeeeng…eeeng..eeeng , ibu …ibu…eeeeng….eeeng)
Keluarlah ibu Sastro dari dalam rumah
Ibu Sastro :”ono opo le..?” (ada apa nak?)
Joko :” eeeeng …ono telek “ sambil menunjuk pahanya (eeeeng…ada tai)
Ibu Sastro :” loh..loh kok telek iso ndek kono?”ujar ibu Sastro sambil bercanda(loh..loh kok tai bisa ada disana?)
Joko :”eeeng..eeeng lesik i….lesik i “ (eeeeng…eeeng..bersihkan..bersihkan)
Ibu Sastro :” oh..ngono to, jaluk diresik i toh, yo wes tak resik i”(oh..begitu ya, minta dibersihkan ya, ya sudah sini aku bersihkan)
Dibersihkanlah dengan tangan oleh ibu
Sastro, jatuhlah kotoran ayam tersebut ketanah, lalu ibu Sastro masuk
kedalam, ia pikir telah selesai, tiba-tiba Joko menangis lagi.
Joko :” ”eeeeeeng..eeeeng..eeeeng, mbook..mbook…eeng..eeng” (eeeeng…eeeng..eeeng , ibu …ibu…eeeeng….eeeng)
Keluarlah lagi ibu Sastro dari dalam rumah
Ibu Sastro :” Ono opo meneh le?”(ada apa lagi nak?)
Joko :” eeeeng…eeeng mbalek ke …mbalek ke “ sambil menunjuk ketanah (eeeng..eeeng…balikkan…balikkan)
Ibu Sastro : “loh eneng opo?” (lo ada apa?)
Ternyata Joko meminta kotoran ayam yang sudah jatuh ketanah tadi minta dikembalikan kepahanya . Apa yang Ibu Sastro lakukan?
Ibu Sastro :” Loh kepiye toh nger, tadi njaluk dieresik i saiki njaluk di balikke, ngono toh ,yo wes tak balekke” (loh gimana sih nak, tadi minta dibersihkan sekarang minta dibalikkan, gitu yah, ya sudah aku balikkan)
Ditaruhnya lagi kotoran ayam
tadi kepaha Joko, setelah itu kemudian bu Sastro kedalam mencuci
tangannya, tetapi Joko menangis lebih keras lagi.
Joko :” ”eeeeeeng..eeeeng..eeeeng, mbook..mbook…eeng..eeng” (eeeeng…eeeng..eeeng , ibu …ibu…eeeeng….eeeng)
Keluarlah ibu sostro dari dalam rumah.
Ibu Sastro: “ ono opo meneh toh nger?” (ada apa lagi sih nak?)
Joko :eeeeng…eeeng…ola podo ….eeeeng ola podo”(eeeeeng..eeeeng..tidak sama..eeeeng tidak sama)
Joko meminta kotoran yang telah jatuh
ketanah tersebut dikembalikan dalam keadaan sama.kira-kira apakah yang
dilakukan oleh Ibu Sostro?mencubit, menjewer Joko?!
Hidup memang isinya pilihan demi pilihan.Ibu
Sastro juga dihadapkan pada pilihan, mau apa dengan anaknya yang
seperti ini?Ternyata ibu Sostro terbimbing untuk melakukan sesuatu yang
luar biasa .ia duduk setentang dengan mata anaknya, kemudian tangannya
ia utus untuk mengusap pundaknya, mulutnya mengeluarkan kalimat demi
kalimat, airmatanya telah keluar, hatinya kesal tapi ia kalahkan
hatinya demi masa depan anaknya.mari kita lihat apa yang ibu Sastro
katakan pada anaknya
Ibu Sastro:”oalah le..le..mugi mugi sisuk
gedhe koe dadi Jendral yo leee, la wong arek cilik seneng nge
ngongkon-ngongkon kayak Jendral”sambil tangannya mengusap-ngusap pundak Joko (oalah…nak..nak..mudah-mudahan
besok gede kamu jadi Jendral ya nak,orang anak kecil kok sukanya
perintah-perintah seperti Jendral)
Ternyata tidak hanya sekali itu saja Joko
berbuat nakal, tetapi ibu Sastro tetap sabar menghadapi anaknya.yang
kemudian jadi pertanyaanya adalah :Apakah Joko jadi Jendral ? Ya, Joko
benar menjadi Jendral yang sekarang sudah berbintang 4 .itu adalah
berkat kekuatan doa yang diucapkan oleh ibu Sastro.
Ketika suatu hari Joko diwawancara, beliau berkata :” saya jadi jendral bukan karena saya pintar, tapi karena ibu saya sabar”

Demikianlah ceramah ba’da Dhuha yang
disampaikan oleh ibu Hj. Neno Warisman pada hari ahad 9 Desember 2007
di Mesjid Agung Sunda Kelapa yang kemudian isi ceramahnya menstimulir
otak saya untuk mengubahnya kedalam bentuk tulisan.Mohon maaf jika ada
kesalahan dalam penulisan, khususnya pada bagian dialog antar Ibu
Sastro dan Joko, Maklum aku kan bukan orang Jawa
Recent Comments